Selasa, 09 Oktober 2012

LATIHAN MENCARI TUHAN YANG HILANG



LATIHAN MENCARI TUHAN YANG HILANG

Banyak orang merasa gelisah dan berasumsi bahwa hidup mereka tidak berarti lagi. Kegelisahan yang dialami kian terus menimpa mereka sehingga tak berdaya menghadapi beratnya hidup. Dalam kondisi seperti ini sering kali mereka mencoba mencari solusi melalui sarana yang bisa mendatangkan kesenangan sesaat seperti: menonton sinetron, mendengarkan musik, makan dan minum sepuas hati, pergi ke tempat-tempat rekreasi dan bar, mencari uang hingga larut malam, terjun dalam pergaulan bebas, dan sejenisnya. Sarana-sarana tersebut tidaklah buruk karena seseorang perlu membutuhkan hiburan dalam hidupnya. Namun hiburan tersebut tidak dapat dikatakan sebagai pemuas yang digunakan untuk mengimbangi kegelisahan hidup yang semakin parah dengan kondisi yang kering-kerontang. Karena hiburan itu hanya bersifat sementara dan tidak dapat digunakan sebagai sumber penghiburan. Dalam rangka mencari dan menemukan Tuhan guna mengimbangi kegelisahan hidup, maka kita perlu melatih kehidupan rohani yang sudah mandeg dan terabaikan dengan latihan lohani.
Latihan Rohani merupakan suatu proses untuk memperoleh kesadaran tentang hidup dihadapan dan bersama Allah. Pengalaman ini, akan membuat kita memahami bahwa Allah dapat dialami dalam seluruh ciptaan sebagaimana juga dikutip dalam Injil Yohanes yakni Firman itu telah menjadi manusia dan diam diantara kita (Yoh. 1:14). Dasar tersebut membuat kita sungguh mengalami tindakan Allah dalam hidup konkret. Tindakan Allah itu bersifat menciptakan dan mengarahkan manusia. Sebagai arah adalah membangun manusia dalam kebenaran sehingga menjadi satu di dalam Kristus. Proses latihan rohani juga bertujuan mempersiapkan dan mengajak kita untuk mencari dan menemukan  kehendak Tuhan dalam pengalaman hidup kita, dengan kata lain menolong kita untuk mengikuti Kristus lebih dekat. Dengan mengikuti Kristus lebih dekat dan menjadikan Dia sebagai sahabat, maka perjalanan kehidupan kita yang sebelumnya kering-kerontang akan berubah laksana mentari yang terbenam dibalik cakrawala penuh keanggunan. Itulah kehidupan sejati yang ditemukan dalam Kristus.
Ignasius Loyola menggambarkan bahwa latihan rohani seperti olahraga sebab “sebagaimana gerak jalan, jarak dekat atau jarak jauh dan lari-lari disebut latihan jasmani, begitu pula dinamakan latihan rohani setiap cara mempersiapkan jiwa dan menyediakan hati untuk melepaskan diri dari segala rasa lekat tak teratur dan selapasnya dari itu, lalu mencari dan menemukan kehendak Allah dalam hidup nyata guna keselamatan jiwa kita”. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa latihan rohani merupakan sebuah pedagogi hidup rohani yang perlu dibangun dan dibentuk melalui proses kehidupan sehingga dapat terlepas dari kelekatan tak teratur.
Akhirnya, kerinduan terbesar untuk mengenal Allah, bukan lagi lewat buku-buku atau konsep-konsep tetapi dalam diri sebagai permulaan hidup rohani. Manusia sesungguhnya terbakar oleh kerinduan untuk mencapai lansung, melihat, menyentuh dan merasakan Dia yang datang diantara kita. Dengan demikian, Allah sesungguhnya berada di depan mata kita sebagai yang hidup, menyapa dan bertindak sehingga keberadaan-Nya tidak perlu membutuhkan pembuktian atau pun pemberitahuan. Kita mengalami Allah dalam perjumpaan personal dan Allah rela dikenal dan dimengerti serta tidak memerlukan jaminan dari luar perjumpaan tersebut.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar