Selasa, 09 Oktober 2012

LATIHAN MENCARI TUHAN YANG HILANG



LATIHAN MENCARI TUHAN YANG HILANG

Banyak orang merasa gelisah dan berasumsi bahwa hidup mereka tidak berarti lagi. Kegelisahan yang dialami kian terus menimpa mereka sehingga tak berdaya menghadapi beratnya hidup. Dalam kondisi seperti ini sering kali mereka mencoba mencari solusi melalui sarana yang bisa mendatangkan kesenangan sesaat seperti: menonton sinetron, mendengarkan musik, makan dan minum sepuas hati, pergi ke tempat-tempat rekreasi dan bar, mencari uang hingga larut malam, terjun dalam pergaulan bebas, dan sejenisnya. Sarana-sarana tersebut tidaklah buruk karena seseorang perlu membutuhkan hiburan dalam hidupnya. Namun hiburan tersebut tidak dapat dikatakan sebagai pemuas yang digunakan untuk mengimbangi kegelisahan hidup yang semakin parah dengan kondisi yang kering-kerontang. Karena hiburan itu hanya bersifat sementara dan tidak dapat digunakan sebagai sumber penghiburan. Dalam rangka mencari dan menemukan Tuhan guna mengimbangi kegelisahan hidup, maka kita perlu melatih kehidupan rohani yang sudah mandeg dan terabaikan dengan latihan lohani.
Latihan Rohani merupakan suatu proses untuk memperoleh kesadaran tentang hidup dihadapan dan bersama Allah. Pengalaman ini, akan membuat kita memahami bahwa Allah dapat dialami dalam seluruh ciptaan sebagaimana juga dikutip dalam Injil Yohanes yakni Firman itu telah menjadi manusia dan diam diantara kita (Yoh. 1:14). Dasar tersebut membuat kita sungguh mengalami tindakan Allah dalam hidup konkret. Tindakan Allah itu bersifat menciptakan dan mengarahkan manusia. Sebagai arah adalah membangun manusia dalam kebenaran sehingga menjadi satu di dalam Kristus. Proses latihan rohani juga bertujuan mempersiapkan dan mengajak kita untuk mencari dan menemukan  kehendak Tuhan dalam pengalaman hidup kita, dengan kata lain menolong kita untuk mengikuti Kristus lebih dekat. Dengan mengikuti Kristus lebih dekat dan menjadikan Dia sebagai sahabat, maka perjalanan kehidupan kita yang sebelumnya kering-kerontang akan berubah laksana mentari yang terbenam dibalik cakrawala penuh keanggunan. Itulah kehidupan sejati yang ditemukan dalam Kristus.
Ignasius Loyola menggambarkan bahwa latihan rohani seperti olahraga sebab “sebagaimana gerak jalan, jarak dekat atau jarak jauh dan lari-lari disebut latihan jasmani, begitu pula dinamakan latihan rohani setiap cara mempersiapkan jiwa dan menyediakan hati untuk melepaskan diri dari segala rasa lekat tak teratur dan selapasnya dari itu, lalu mencari dan menemukan kehendak Allah dalam hidup nyata guna keselamatan jiwa kita”. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa latihan rohani merupakan sebuah pedagogi hidup rohani yang perlu dibangun dan dibentuk melalui proses kehidupan sehingga dapat terlepas dari kelekatan tak teratur.
Akhirnya, kerinduan terbesar untuk mengenal Allah, bukan lagi lewat buku-buku atau konsep-konsep tetapi dalam diri sebagai permulaan hidup rohani. Manusia sesungguhnya terbakar oleh kerinduan untuk mencapai lansung, melihat, menyentuh dan merasakan Dia yang datang diantara kita. Dengan demikian, Allah sesungguhnya berada di depan mata kita sebagai yang hidup, menyapa dan bertindak sehingga keberadaan-Nya tidak perlu membutuhkan pembuktian atau pun pemberitahuan. Kita mengalami Allah dalam perjumpaan personal dan Allah rela dikenal dan dimengerti serta tidak memerlukan jaminan dari luar perjumpaan tersebut.

MENILIK KE TIMUR JAUH Dan MENGENAL SUKU NDUGA

MENILIK KE TIMUR JAUH
Dan
MENGENAL SUKU NDUGA

I.               PENDAHULUAN
Suku Nduga adalah sebuah suku yang mendiami daerah pegunungan Tengah Papua. Suku Nduga merupakan suku kecil yang berada di bawah suku Dani. Mereka baru dikenal ketika ada pemekaran kabupaten dan seiring berjalannya OTSUS. Mereka tidak terlalu dikenal oleh suku bangsa lain dan bahkan literatur mengenai mereka pun hampir jarang ditemukan. Kawasan suku Nduga yang berada di sebelah utara didiami oleh suku Dani Barat dan sebelah selatan didiami oleh suku Asmat. Sedangkan sebelah barat berbatasan dengan suku Damal. Suku Nduga termasuk petani ladang, di mana mereka hidup dari umbi-umbian, keladi, singkong, dll. Selain itu, mereka dikenal sebagai peternak babi. Mereka hidup di sekitar Mapndum, Tangma, Sinak, Ilaga, Beoga, dan Hitadipa.
Menurut pembagian wilayah pemerintahan, daerah Nduga yang berada dalam kawasan Lorentz termasuk pada kecamatan Tiom, yang dahulunya masih termasuk dalam wilayah Kabupaten Jayawijaya dan sekarang sudah menjadi kabupaten sendiri, yaitu kabupaten Ndugama. Masyarakat Nduga mengelompokan diri ke dalam dua kelompok suku yakni: Kelompok suku Nduga yang berdiam di daerah panas seperti di Mapnduma, peretngahan Mbuah hingga Kora-Bawah; Wusak-Bawah; Kenyem; Geslema; Wandut; dan Airalma. Dan kelompok suku Nduga yang berdiam di daerah-daerah dingin seperti di Yigi, Mbuwa-Atas, Iniye, Wusak-Atas dan Kora-Atas.

II.           SUKU NDUGA
2.1.       Lokasi, Lingkungan Alam dan Demografi
Lokasi kebudayaan Nduga dan struktur sosial suku ini dipusatkan pada daerah-daerah Kurigi dan Nirigimbrik (tempat-tempat ini diberi nama oleh masyarakat Nduga menurut nama kampung di mana dibangun gedung gereja, misalnya wilayah Kurigi meliputi kampung Putndumu, Nalwangge, Dondokloma, Mberik, dan Wiletti). Kurigi terletak kurang lebih 2775 m. di atas permukaan laut. Kurigi dan Nirigimbrik termasuk dalam kelompok suku Nduga yang hidup di daerah dingin yaitu di daerah Yigi. Batas-batas wilayah Kurigi ialah sungai Kurigi di sebelah selatan, Sungai Ara di sebelah utara, Sungai Yigi di sebelah timur, dan Mugi di sebelah barat. Batas-batas wilayah Nirigmbrik adalah Sungai Yigi di sebelah utara, Gunung Sokme di sebelah selatan, Kampung Mbrigenma di sebelah barat, dan Sungai Yigi di sebelah Timur. Sedangkan secara demografis, populasi suku Nduga pada tahun 1990 adalah sekitar 1.500 jiwa. 70% penduduk adalah anak-anak, dan dari jumlah yang ada, 44% di antaranya adalah laki-laki serta 28% wanita.

2.2.       Sejarah Asal-usul
Nduga adalah salah satu suku asli Papua. Suku Nduga bermukim di seluruh lokasi Taman Nasional/Internasional Lorenz dan hidup di tengah-tengah beberapa suku kerabat yaitu; Dani, Amungme, Moni, dan Damal. Suku Nduga dapat menggunakan beberapa bahasa daerah dan menggunakan istilah yang menunjukkan bahwa Suku Nduga dapat berbahasa suku lain yaitu, Lani-Nduga istilah yang digunakan bagi suku Nduga yang dapat berbahasa suku Dani. Amung-Tau yaitu istilah yang digunakan untuk masyarakat suku Nduga yang dapat menggunakan dua bahasa yaitu bahasa suku Amungme dan bahasa Nduga sendiri. Istilah selanjutnya yaitu Nduga-Loremeye yaitu orang Nduga yang dapat menggunakan bahasa Suku Moni.
Sehubungan dengan hal tersebut, maka ada beberapa istilah yang sering digunakan yaitu ada Nduga Nayak yaitu mereka yang dapat berbahasa Dani Lembah (Wamena Lembah).  Suku Nduga menyebar hampir di beberapa kabupaten yaitu Wamena, Timika, Jayapura, Nabire dan Asmat. Wilayah Suku Nduga baru dimekarkan menjadi satu kabupaten pemekaran yaitu Kabupaten Ndugama yang artinya kabupaten yang berdiri di tengah wilayah/rumah orang Nduga. Masyarakat Nduga yakin bahwa nenek moyang mereka berasal dari Seinma. Seinma ialah sebuah kampung di Kecamatan Kurima. Orang Dani dan beberapa orang Yali serta orang Hupla pun percaya bahwa mereka berasal dari Seinma. Ada sebuah cerita yang dikisahkan oleh Yikok Ubruangge, dari suku Nduga sendiri yang berdiam di Mapnduama. “Ada suatu tempat di hutan, di daerah Piri, dekat dengan Puncak Trikora di mana para moyang berkumpul untuk berdiskusi. Sementara yang lainnya berdiskusi, satu kelompok diantaranya meninggalkan mereka, dan kelompok itu akhirnya menjadi suku Asmat, yakni suku yang hidup dekat pesisir pantai. Kelompok lainnya pergi dan beristrahat di Munggilbak. Kemudian dari pada itu ada yang mencari daerah yang rumput seperti Nduga, ada pula yang mencari daerah dataran misalnya orang Baliem. Ada pula yang menyusuri sungai dan bermukim di Iniye, Wusak, Mbuwa, Yigi, Gula dan Yuguru. Masyarakat Nduga yang berdiam di Mapnduma adalah kelompok yang menyusuri Sungai Gul”.

2.3.       Bahasa
Bahasa Nduga dapat diklasifikasikan sebagai bahasa Papua, fillum Trans New Guinea, Stock Dani-Kwerba, Divisi Selatan; Famili Dani besar; Sub family Ngalik-Nduga (Wurm-Hattori). Beberapa istilah dalam bahasa Nduga sama dengan istilah-istilah yang terdapat dalam bahasa Dani dan Yali (Suku Dani dan Suku Yali merupakan dua rumpun suku-bangsa yang berdiam berdiam di pegunungan tengah Papua). Sebagai contoh an, berarti “saya”, sama kata dan artinya pada bahasa Dani, Lani, dan Yali. Hal yang sama berlaku pula untuk perkataan wam yang berarti “babi” kata wa dipakai untuk memberi salam, ap yang berarti ‘laki-laki’ dan seterusnya.
Suku Nduga dapat menggunakan beberapa bahasa dan istilah yang terdapat di daerah sekitarnya. Lani-Nduga merupakan istilah yang digunakan bagi suku Nduga yang dapat berbahasa suku Dani. Amung-Tau yaitu istilah yang digunakan bagi suku Nduga yang dapat menggunakan dua bahasa yaitu bahasa suku Amungme dan bahasa Nduga sendiri. Istilah selanjutnya yaitu Nduga-Loremeye yaitu orang Nduga yang dapat menggunakan bahasa Suku Moni. Selain itu,  ada beberapa istilah yang sering digunakan oleh mereka yakni Nduga-Nayak merupakan istilah  bagi mereka yang dapat berbahasa Dani Lembah (Wamena Lembah).

2.4.       Sistem Teknologi
Sistem teknologi dalam masyarakat suku Nduga tidak dapat dipaparkan secara jelas  dan terperinci karena keterbatasan leteratur mengenai suku Nduga sendiri. Sebagai gambaran umum bahwa suku Nduga kurang lebih memiliki ciri-ciri sistem teknologi yang sama dengan suku tetangganya yaitu suku Lani dan Dani. Pada kebanyakan suku yang mendiami bagian pengunungan tengah termasuk suku Nduga sendiri biasanya menggunakan kapak batu untuk menebang pohon dalam rangka membuka lahan, membuat rumah, pagar, panah, tombak, busur dan memotong tali-tali yang berukurang besar. Setelah berkembangnya alat-alat teknologi modern maka mereka mengenal pisau, parang, kapak dan cangkul yang terbuat dari besi atau baja. Hal ini telah memudahkan mereka dalam bercocok tanam.

2.5.       Mata Pencaharian
Masyarakat suku Nduga dikenal sebagai petani ladang dan pemelihara babi. Tanaman dan subsistensi amat nampak dari pola hidup mereka  yang menyandarkan hidupnya pada umbi-umbian, keladi, tebu, pisang, sayur-mayur, dan lain-lain. Selain itu, subsistensi dan adaptasi turut mewarnai kehidupan mereka di mana nampak ketergantungan pada hewan mamalia dan unggas sebagai pelengkap gizi.
 Masyarakat Nduga yang berada di Kurigi pada umumnya memiliki ladang yang berupa ladang lereng (yabu leberakma). Jenis ladang lainnya ialah ladang halaman dan ladang di daerah datar (yabu bibirikmu). Dalam ladang-ladang itu, baik yang di lereng maupun di tanah datar,  biasanya ditanami ubi dan keladi. Pada ladang lereng biasanya ditanami tebu (el), buncis, pisang (kwari), ketimun (buki), sayur lilin (wiye), dan sebagainya.
Inilah beberapa tahapan pada kebun-kebun ubi orang Nduga. Kebun tua disebutnya yabusik. Pada lahan ini umumnya ditumbuhi rumput-rumput tinggi serta pohon-pohonan. Sebuah kebun baru segera akan dibuka apabila lapisan daun yang jatuh telah menebal dan tanah bertambah. Untuk membuka ladang baru mereka perlu mengetahui apakah lokasi kebun baru itu berada di dalam atau di luar areal babi, sehingga perlu dibuatkan pagar dan menebang pohon. Pekerjaan ini disebut yabu elerak. Kayu-kayu dan berbagai bahan lainnya yang telah dibakar habis di kebun disebut  yabu tirika pago.
Selain berkebun atau berladang, orang Nduga juga berburu sebagai salah satu mata pencarian. Mereka berburu unggas dan kuskus (mena). Tidak hanya orang tua yang melakukan pekerjaan ini, namun anak-anak sekolah turut mengikuti pekerjaan tersebut. Banyak murid yang pergi ke sekeolah sambil membawa busur dan anak panah untuk berburuh  ketika pulang sekolah. Mereka sering kali berburu pada daerah-daerah panas, misalnya Keryam, Geselema, dan Wandud. Mereka juga memburu kasuari (saro), kanguru pohon (menaje), dan babi (wam). Mereka berburuh dengan berbagai jenis anak panah. Untuk berburu unggas, terdapat dua jenis anak panah yang disebut kasoga untuk burung yang sedang terbang dekat/rendah, dan idmare yaitu untuk menembak burung yang terbang jauh. Untuk kuskus dan babi, mereka mengunakan anak panah yang disebutnya mingin.
Selain mengunakan panah, mereka juga mengunakan jerat untuk brburu. Ada tiga macam jerat untuk menjerat burung. Nggopngenma jerat untuk burung namdur, jerat ini dipasang didekat buah yang disukai oleh burung itu, yakni buah atnggoop bila pada musim buah-buahan. Yuburumu ialah jerat yang dipasang pada batang-batang kayu yeng terdapat di genangan air dan biasanya digunakan oleh burung untuk mandi; sedangkan jerat yang dinamakan nowoma ialah jerat yang dipasang pada lereng gunung tempat dimana burung biasa datang ke sana untuk minum. Sedangkan jerat untuk menangkap hewan mamalia terdiri dari sapma, yaitu jerat yang dipasang di hutan di atas tanah. Kiigare, jerat ini dipasang di dalam kampung; dan kere yaitu jerat yang dipasang pada pohon-pohon di dalam hutan. Penangkapan kuskus dengan mengunakan jerat umumnya dilakukan pada musim buah pandan (buah merah).
Babi adalah hewan yang bermanfaat bagi masyarakat Nduga, dimana babi bernilai tinggi di kalangan budaya mereka. Babi digunakan antara lain untuk mas kawin dan pembayaran-pembayaran denda atau karena sebab-sebab perang. Babi biasaanya hidup bersama manusia di dalam rumah dan diperlakukan sebagai bagian dari keluarga. Babi menjadi lambang kemakmuran dan prestise. Babi memiliki berbagai nama menurut tingkat usianya. Secara umum babi dinamakan wam. Anak babi disebut wamenep. Jika anak babi telah berusia satu bulan diberi nama owaktaro. Babi berusia lebih dari satu bulan disebut wam idewarak.

2.6.       Organisasi Sosial
Organisasi sosial pada masyarakat Nduga terdiri dari kesatuan-kesatuan keluarga, kampung, kekerabatan serta aliansi. Satu keluarga terdiri dari seorang ayah, ibu dan anak. Diantara suami dan isteri terdapat kebun, daerah perburuan dan lahan pandan (pandanus) yang dimiliki secara perorangan. Mereka bersama-sama membuka kebun, menanam buah pandan dan memelihara babi. Setiap keluarga mempunyai sebuah rumah yang diperuntukan untuk sang ibu, ayah, nenek, dan kakek, di mana mereka berkumpul untuk makan bersama. Rumah itu dijaga dan dihuni oleh kaum lelaki.
Setiap daerah penghunian terdiri dari satu atau dua rumah laki-laki dan beberapa rumah perempuan. Jika diantara mereka yang tidak memiliki rumah baik laki-laki maupun perempuan maka bisa tidur di kampung tetangga, misalnya di kampung Mbrik, dimana kaum lelakinya pergi ke rumah lelaki di kampung Putndum. Orang yang berdiam di suatu kampung bisa saja terdiri dari satu marga, misalnya marga Gwijangge yang hidup di kampung Kurigi. Tetapi kadang-kadang terdapat pula berbagai marga berkumpul membentuk suatu kampung. Mereka bekerja secara bergotong-royong dalam membangun rumah-rumah kaum lelaki maupun kaum perempuan, membangun pagar untuk babi dan membuat jalan-jalan setapak. Mereka juga membagikan buah-buah pandan, babi, dan sebagainya pada kerabat. Merekapun dapat memasak bersama-sama, misalnya kaum lelaki membunuh babi dan kaum perempuan memasak ubi.
Satu kampung terdiri dari beberapa daerah penghunian. Kampung Kurigi misalnya terdiri dari daerah sepenghunian Nalwangge, Putndum, Dondokloma, Mbrik, Kurigi, Laneyandumu, dan Woktrem. Sistem kampung ini lebih banyak bertalian dengan ikatan teritorial dari pada ikatan darah. Kekerabatan adalah kelompok orang yang mempunyai pertalian darah. Di daerah Kurigi, nyatalah bahwa Gwijangge mempunyai kekerabatan yang tersebar di daerah itu. Adapula Gwijangge yang ada di tempat-tempat lain, dan biasanya ketika bertemu, mereka bisa mendiskusikan hubungan persaudaraan, sehingga mereka tahu bagaimana harus saling menyapa. Aliansi adalah suatu kelompok bekerjasama dalam perang. Suatu aliansi terdiri dari beberapa kampung dari berbagai daerah.

2.7.       Sistem Pengetahuan
Pengetahuan yang didapati oleh masyarakat Nduga pada umumnya adalah pendidikan non-formal (pendidikan luar sekolah). Hal ini terjadi karena masih banyak kekurangan tenaga pengajar/guru di sekolah. Selain itu, jarak yang cukup jauh antara sekolah dan kampung menjadi salah satu kendala, Misalnya, sulit bagi masyarakat Nduga yang bermukim di Kora, Wusak dan Iniye untuk bersekolah ke Mapnduma. Sulit bagi mereka untuk bermukim di daerah milik orang lain. Lagi pula anak-nak meraka lebih menyukai bekerja di kebun membantu orang tua mereka. Walaupun ada beberapa anak yang berhasil pergi ke tempat lain untuk melanjutkan sekolah, namun pada umumnya mereka lebih memilih membantu orang tua untuk berkebun, sehingga mereka lebih mendapatkan pengetahuan non-formal ketimbang formal.
Anak-anak Nduga belajar dari orang tua mereka melalui apa yang dibuat sehari-hari. Anak-anak perempuan pergi bersama ibu mereka menanam ubi sedangkan anak laki-laki pergi berburu dan memasang jerat bersama ayah mereka. Anak-nak itu mempunyai hak atas apa yang mereka tanam (misalnya seorang anak perempuan menjual sayur-mayur yang ditanamnya dan menyimpan sendiri uang yang diperolehnya). Anak-anak perempuan Nduga belajar dari ibu mereka tentang cara membuat baju dari bahan rumput, menangkap katak, mengayam noken, memasak, dan memelihara babi. Anak-anak pria belajar membuat busur dan anak  panah  serta melatih mengunakan alat-alat tersebut. Mereka belajar cara membuat kalung dari hasil-hasil tumbuhan, membangun rumah, pagar, dan jembatan. Dalam rumah laki-laki, mereka belajar mengenai norma-norma dan nilai-nilai masyarakat Nduga, dan di sana pula dikisahkan tentang peperangan melawan musuh-mush mereka. Ketika berusia antara 10-12 tahun, anak-anak Nduga sudah mengenal bagaimana hidup di dalam lingkungannya.

2.8.       Kesenian
Budaya masyarakat Nduga memiliki kesenian yang digunakan untuk memeriahkan sesuatu pesta atau mau menandakan suatu peristiwa, misalnya perang suku, dll. Korang adalah sebuah lagu kemenagan bagi masyarakat Nduga. Lagu ini akan dinyanyikan pada saat meraka menang dalam perang antar suku, kampung atau antarmarga. Korang bisa dinyanyikan dua atau beberapa kali tergantung jumlah korban dari pihak sebelah (yang kalah) yang berahasil dibunuh.
            Selain korang, masyarakat Nduga juga memiliki kesenian lain berupa Engen Wanogolat. Jenis kesenian ini akan dinyanyikan pada saat mereka berkumpul dalam sebuah honai (rumah adat). Lagu dinyanyikan dengan tujuan meminta bantuan kepada keluarga yang memiliki kelebihan, misalnya manik-manik, kapak, gelang, dan anak perempuan untuk dijadikan istri bagi yang belum memiliki istri. Bagi mereka yang mendapatkan istri tetap membayar belis, tetapi ada keringanan. Engen Wanogolat juga merupakan sarana untuk mempertemukan kaum muda dan mudi. Dimana pada saat itu mereka akan saling menukar kado berupa gelang, noken dan lain-lain. Tujuan utama dari acara ini adalah untuk mempertemukan kaum muda dan mudi, karena pada saat itu mereka akan menemukan jodoh mereka masing-masing.
            Masyarakat Nduga juga memiliki kesenian lain berupa lagu Lakuje. Lakuje digunakan untuk menghibur anak yang sedang menangis dan juga mengingat kembali akan masa lalu dari seorang ibu kepada suaminya yang sudah meninggal dunia. Lagu ini akan dinyanyikan pada sore hari oleh seorang ibu ketika anaknya sedang menangis, dan juga dinyanyikan saat ia mengingat kembali masa lalu bersama suaminya yang telah meninggal. Selain Lakuje, ada juga alat kesenian yang sering digunakan oleh masyarakat Nduga pada saat mereka sedang menyiapkan bakar batu. Alat itu disebut Powa (harmonika). Powa akan dimainkan pada saat mereka lagi memikul kayu, batu, ubi dan lain-lain yang menyangkut dengan bahan yang digunakan untuk bakar batu.

2.9.       Sistem Religi
Orang Nduga percaya bahwa ada seseorang yang mengetahui akan segala hal yang mereka lakukan, serta segala kesalahan yang dilakukan di masa lalu yang telah mempengaruhi kehidupan mereka. Misalnya bila babi-babi mereka mati dan sulit untuk dijelaskan alasannya, ataupun anak anak-anak mereka tidak henti-hentinya sakit, mereka akan meminta bantuan orang tersebut dan ia sudah mengetahui apa yang mereka harus perbuat. Dalam kebudayaan mereka, seorang pria takut pada perempuan karena kemampuannya membunuh pria dengan sihir.
Perempuan semacam itu disebut kweemeo. Orang Nduga berkata bahwa kweemeo dapat membunuh orang pada waktu malam hari, dan orang itu akan mati mendadak. Aser Kogoya, seorang mantri yang mengabdi di Mbua dekat Nduga meyakini hal ini, bahwa dimana semua perempuan mempunyai kemampuan membunuh, sedangkan semua pria tidak.

III.        Kesimpulan
Suku Nduga adalah sebuah suku yang mendiami daerah pegunungan Tengah Papua. Suku ini merupakan suku kecil yang berada di bawah suku Dani. Mereka baru dikenal ketika ada pemekaran kabupaten dan seiring berjalannya OTSUS. Mereka tidak terlalu dikenal oleh suku bangsa lain selain para suku kerabat dan tetangganya. Suku Nduga termasuk petani ladang, di mana mereka hidup dari umbi-umbian, keladi, singkong, tebu (el), buncis, pisang (kwari), ketimun (buki), sayur lilin (wiye) dll. Selain itu, mereka dikenal sebagai peternak babi. Mereka hidup di sekitar Mapndum, Tangma, Sinak, Ilaga, Beoga, dan Hitadipa. Melihat letak geografis yang begitu sulit untuk dijangkau maka masyarakat Nduga sulit untuk mendapatkan pendidikan yang layak yakni formal. Selain itu, kinerja guru yang kurang maksimal dan letak sekolah amat jauh dari tempat tinggal maka amat disayangkan bahwa terpaksa banyak anak suku Nduga harus belajar bersama alam yakni pendidikan informal. Pelajaran bersama alam ini kurang lebih membawa suatu nilai tertentu yakni anak-anak suku Nduga tetap setia melestarikan adat istiadat yang terdapat pada suku mereka.


REFERENSI
Hasil Penelitian Mahasiswa STFT Tingkat IV Tentang “SUKU BANGSA PAPUA” tahun
2010/2011.
Hasil Seminar “Papua Sudah” yang diselanggarakan oleh Perhimpunan Pencinta Alam
Geografi JANTERA di gedung PKM UPI tanggal 19 November 2008.
Mandembu, Niesje A, Suku Sempan, Nakai, Nduga dan Amugme di Kawasan Lorentz,
Jayapura: PHPA/WWF Project 4521, 1991.
Paul Sillitoe, Introduksi ke Antropologi Melanesia: Budaya dan Tradisi, terj. Isak Resubun.
Jayapura: STFT - Diktat, 2012.


Senin, 08 Oktober 2012

LATIHAN ROHANI untuk MENEMUKAN ALLAH


LATIHAN ROHANI untuk MENEMUKAN ALLAH

I.               PENDAHULUAN
Manusia diciptakan untuk memuji, menghormati dan mengabdi Allah, sehingga jiwanya diselamatkan. Itulah asas dan dasar! Dalam meditasi Ignasian, asas dan dasar merupakan latihan untuk memperoleh kesadaran tentang hidup dihadapan dan bersama Allah. Pengalaman ini, akan membuat kita memahami bahwa “Allah dapat dialami dalam seluruh ciptaan”[1] sebagaimana juga dikutip dalam Injil Yohanes yakni Firman itu telah menjadi manusia dan diam diantara kita (Yoh. 1:14). Dasar tersebut membuat kita sungguh mengalami tindakan Allah dalam hidup konkret. Tindakan Allah itu bersifat menciptakan dan mengarahkan manusia. Sebagai arah adalah membangun manusia dalam kebenaran sehingga menjadi satu di dalam Kristus.

II.           LATIHAN ROHANI
A.           HIDUP ROHANI
1.      Suatu pengalaman untuk hidup rohani
Banyak orang merasa gelisah dan berasumsi bahwa hidup mereka tidak berarti lagi. Kegelisahan yang mereka alami, dicari solusinya lewat sarana yang bisa mendatangkan kesenangan sesaat seperti: menonton sinetron, mendengarkan musik, makan dan minum sepuas hati, pergi ke tempat-tempat rekreasi dan bar, mencari uang hingga larut malam, dan sejenisnya. Sarana-sarana tersebut tidaklah buruk karena seseorang perlu membutuhkan hiburan dalam hidupnya. Namun hiburan tersebut tidak dapat dikatakan sebagai pemuas yang digunakan untuk mengimbangi kegelisahan hidup yang semakin parah dengan kondisi yang kering-kerontang. Karena hiburan itu hanya bersifat sementara dan tidak dapat digunakan sebagai sumber penghiburan. Dalam rangka mencari dan menemukan Tuhan guna mengimbangi kegelisahan hidup maka kita perlu melatih kehidupan rohani yang sudah mandeg dan terabaikan dengan latihan lohani.
Proses latihan rohani bertujuan mempersiapkan dan mengajak kita untuk mencari dan menemukan  kehendak Tuhan dalam pengalaman hidup kita, dengan kata lain menolong kita untuk mengikuti Kristus lebih dekat. Dengan mengikuti Kristus lebih dekat dan menjadikan Dia sebagai sahabat maka perjalanan kehidupan kita yang sebelumnya kering-kerontah akan berubah laksana mentari yang terbenam dibalik cakrawala penuh keanggunan. Itulah kehidupan sejati yang ditemukan dalam Kristus.

2.      Sebagai pedagogi hidup rohani
Ignasius dalam catatan pendahuluan pertama menggambarkan bahwa latihan rohani seperti olahraga karena dikatakan  sebagai berikut: “sebagaimana gerak jalan, jarak dekat atau jarak jauh dan lari-lari disebut latihan jasmani, begitu pula dinamakan latihan rohani setiap cara mempersiapkan jiwa dan menyediakan hati untuk melepaskan diri dari segala rasa lekat tak teratur dan selapasnya dari itu, lalu mencari dan menemukan kehendak Allah dalam hidup nyata guna keselamatan jiwa kita”.[2] Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa latihan rohani merupakan sebuah pedagogi hidup rohani yang perlu dibangun dan dibentuk melalui proses kehidupan sehingga dapat terlepas dari kelekatan tak teratur.

B.            STRUKTUR DINAMIS LATIHAN ROHANI
Latihan rohani merupakan sesuatu yang dinamis sehingga dalam latihan perlu ada pengawasan dari pembimbing yang berpengalaman. Latihan rohani dibagi menjadi empat bagian, yang disebut empat minggu. Pembagian tersebut hanyalah untuk menunjukan bahwa “latihan rohani terdiri dari empat langkah besar yang sesuai dengan dinamika sejarah keselamatan.”[3]
1.             Minggu I: dosa dan kerahiman Allah
Renungan atas dosa tidak terlepas dari belas kasih dan kerahiman Allah kepada umat manusia. Renungan ini tidak hanya mengajak dan membawa manusia ke dalam kesadarannya akan keberdosaan, melainkan juga ke dalam kesadaran yang semakin mendalam atas cinta kasih Allah. Kesadaran ini merupakan daya kekuatan dan landasan untuk hidup lebih baik serta maju dalam menjawab panggilan Allah di dalam Kristus.
Latihan rohani yang dijalankan ialah meditasi dengan daya jiwa. Agar latihan ini membawa hasil yang maksimal maka diberikan berbagai bantuan petunjuk tambahan yang tujuannya menciptakan suasana damai dalam batin. Bila latihan rohani dijalankan dengan baik dan semestinya maka akan terjadi gerakan-gerakan batin. Dinamika perjalanan tahap ini ditandai dengan permohonan rahmat rasa malu dan aib atas diri sendiri agar semakin merasakan betapa dalam dan besar cinta kasih Allah.

2.             Minggu II: mengikut Yesus
Renungan ini mengajak kita agar lebih dalam mengenal pribadi Yesus Kristus serta memperjuangkan Kerajaan Allah sebagai pilihan utama dalam hidup. Jalan yang perlu ditempuh demi memperjuangkan Kerajaan Allah ialah jalan kemiskinan, ketaatan, dan kemurniaan. Agar pilihan tersebut sungguh dekat dengan pilihan Yesus, maka kita diajak untuk mengadakan latihan tiga macam kerendahan hati yang merupakan pengolahan hati dan afeksi seseorang untuk mencintai apa yang dicintai oleh Tuhan. Selama latihan rohani semua ini akan dialami dalam proses gerak-gerak batin dan rohani. Dinamika internal perjalanan doa selama minggu ini ialah permohonan rahmat agar semakin mengenal dan terbuka kepada Yesus sehingga semkin mencintai dan mengikuti-Nya.

3.             Minggu III: kesengsaraan Yesus
Dalam renungan ini, kita dibawa masuk ke misteri terdalam pergulatan Allah dalam kemanusian untuk menegakkan hidup berdasarkan nilai-nilai Kerjaan Allah sebagai konsekuensi atas pilihan yang dibuat. Dengan merenungkan misteri salib dalam perspektif pedagogi iman maka kita diharapkan untuk semakin menyerahkan diri dan masuk ke dalam jalan pilihan Tuhan sebagai tindak lanjut dari keputusan yang sudah diambil dalam latihan-latihan yang lalu. Oleh karena itu, dinamika perjalanan selama sepekan ini ialah ditandai dengan permohonan rahmat kesusahan dan kesengsaraan bersama Yesus.



III.        PERGI MENYERTAI DIA
A.           DOSA
1.             Dosa asal
Gereja mengajarkan bahwa setiap manusia lahir dalam keadaan dosa dan terpisah dari Allah. Keadaan ini disebut dosa asal yang berarti tidak berdasarkan kesalahan sendiri, melainkan karena lahir dalam keadaan konkret umat manusia yang berupa keadaan dosa. “Yesus Kristus wafat di kayu salib merupakan salah satu bentuk solidaritas-Nya dengan umat manusia yang harus mati karena dosa.”[4] Situasi keberdosaan ini sering disebut sebagai dosa asal. Teologi modern menerangkan kesatuan dalam dosa tersebut bukan saja secara biologis, psikologis atau pun sosiologis melainkan secara teologis yakni berdasarkan kesatuan semua orang dalam rencana keselamatan. Menurut rencana Allah bahwa semua orang dari semula bersatu dalam tujuan hidup kearah kesamaan dengan Kristus (lih. Rm 8:29).

2.             Manusia jatuh ke dalam dosa
“Allah memberikan kebebasan kepada manusia untuk memuji dan memuliakan Dia. Namun kebebasan itu disalahgunakan oleh manusia dengan memilih melawan Allah.”[5] Perlawanan manusia inilah yang disebut sebagai dosa. Perbuatan ini dikisahkan secara nyata dalam Kej. 3:1-24. Dosa berakar di hati manusia dan membuat dirinya berdaulat dalam kebebasan. Kebebasan ini disalahgunakan sehingga “dari hati datanglah pikiran jahat, pembunuhan, perzinahan, pemerkosaan, pencurian...” (Mat. 15:19). Manusia perlahan memisahkan diri dari Allah melalui dosa. Dosa merupakan isolasi radikal yang membuat manusia jauh dari sumber kehidupan dan membuat dirinya sebagai tujuan serta pusat hidup dari segala tindakan.
Dosa tidak hanya berdampak pada hubungan pribadi, tetapi mengejawantah dalam masyarakat luas seperti kebencian, kedengkian, kemalasan, percabulan, permusuhan, perang, bahkan pembunuhan, sebagaimana dalam Kitab Kejadian dosa di taman Firdaus yang diikuti oleh pembunuhan Habel (Kej. 4).  Dosa merupakan simbol keruntuhan dunia.[6] Sehingga St. Ignatius menghendaki dalam buku latihan rohani agar kita bermeditasi tentang dosa. Sebab di sinilah letak titik tolak latihan rohani yang sebenarnya yakni kita perlu “menyadari diri sebagai mahkluk yang memiliki asas dan dasar”[7] namun dihancurkan oleh dosa. Permenungan ini mengajak kita untuk mengalami Allah secara personal dan melihat betapa besar kerahimanNya kepada kita yang mau kembali menjadi anak-anak Allah.

B.            PERGI KE PADANG GURUN
1.             Pengalaman di padang gurun
Sekitar awal abad ke-4, orang-orang kristen mengikuti jejak Kristus dengan menjalani hidup tapa di padang gurun. Di sana mereka menghadapi godaan-godaan iman yang hebat.[8] Dengan cara yang sama, kita ditantang untuk memeriksa dan melihat ke dalam kegersangan padang gurun hati kita sendiri. Ketika pertama kali kita memasuki padang gurun, tampak sepi dan kosong; hanya sedikit yang dapat dilihat dan didengar.
Saat berada dan tersesat di padang gurun, kita dihampiri penderitaan dan godaan yang terus meresap ke dalam hati serta menciptakan ruang kosong yang perlu diisi dengan alkohol, narkoba, obat penenang dan hubungan sex yang serempangan. Kita mengalami kegersangan Rohani, merasa bahwa Tuhan tidak bersama dengan kita atau kehilangan Tuhan, bahkan kepekaan terhadap diri sendiri pun bisa turut hilang. Dalam krisis yang demikian, kita menginginkan agar segala sesuatu cepat berlalu tetapi betapa ini sebuah keinginan yang tak mungkin bisa terjadi, karena tersesat di padang gurun berarti berhadapan langsung dengan krisis tersebut.
Ketika terpuruk dan tak berdaya, kita mulai bertanya dalam diri “apakah ada garis akhir dari semuanya ini? Dalam arti tertentu ada. Di saat kita sungguh percaya bahwa padang gurun ini merupakan tempat pemurnian dan peralihan menuju kebahagian maka perlahan-lahan kita keluar dari tanah kosong yang gersang dan memasuki tanah lapang yang subur dan ramah. Hati kita disembuhkan dan menemukan tujuan yang baru serta belajar mencintai lagi. Tetapi, dalam artian yang lain kita sebenarnya tidak pernah meninggalkan padang gurun, melainkan menyesuaikan diri dengan lingkungan sekitarnya.

2.             Bersama Yesus di padang gurun
Kitab Suci menceritakan bahwa Yesus dalam pengalaman hidup-Nya pun turut merasakan padang gurun sebagaimana dirasakan manusia. Sebelum awal karya keselamatan umat manusia, Yesus pergi ke sungai Yordan dan dibabtis oleh Yohanes kemudian Roh Kudus menuntun-Nya ke padang gurun untuk dicobai. Yesus ditantang dan dicobai selama empat puluh hari untuk mampu mengalahkan keinginan daging-Nya. Yesus pun berhasil mengalahkan godaan tersebut. Dengan pengalaman yang sama, kita ditantang pula agar bisa melawan keinginan daging dan hawa-nafsu tak teratur yang melekat dalam diri kita.[9] Sebab barangsiapa yang mau mengikuti Yesus, pertama-tama harus menyangkal dirinya dan memikul salib kemudian baru mengikuti-Nya. Pengalaman padang gurun mengajak kita untuk selalu bersama Yesus baik dalam suka maupun duka sebagaimana Dia sendiri berkata “Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku tinggal di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa” (Yoh 15:5).

3.             BERTEMU DENGAN YESUS
1.    Sebagai awam
Kehidupan dan keberadaan Yesus selama di dunia adalah sebagai seorang awam. Dia tidak tergolong dalam kelas atas maupun kelas imam. Kehidupan Yesus sebagai seorang awam terus memotivasi diri-Nya untuk berkeliling mewartakan Kerajaan Allah tanpa sanksi atau pun dukungan instansi mana pun. Satu-satunya dukungan adalah Bapa-Nya di Surga. Sebagai orang awam, Yesus merasa akrab dengan rakyat kecil. Dia sering mengikuti pesta rakyak (bdk. Yoh 2:1-12) dan amat dekat dengan kaum miskin. Walaupun demikian, Yesus tidak menutup diri untuk bergaul dengan masyarakat kalangan atas (bdk. Luk 14:4-14).
Dalam Gereja Katolik, “orang awam kerap kali diperikan dari sudut negatif sebagai orang Kristiani yang bukan imam dan biarawan-biarawati”[10] sehingga tidak memiliki kedudukan dalam hierarki Gereja. Selama berabad-abad Gereja terlalu banyak diperintah oleh sistem hierarki sehingga sikap kaum awam sering menjadi pasif bahkan tidak diperhitungkan. Hal inilah yang mau ditekankan dari kehidupan Yesus bersama orang awam bahwa mereka bukanlah orang terpinggir yang hanya dipandang sebelah mata. Melainkan mereka adalah satu dan sama dengan kita, sehingga sikap saling menerima dan cinta kasih harus ditumbuhkan dalam kebersamaan. Keprihatinan yang dialami Yesus bersama orang miskin baru diperbaharui dalam Konsili Vatikan II yang melihat dirinya yakni Gereja sebagai “sakramen penyelamatan” bagi dunia. Dengan demikian, Gereja membuka diri untuk “merasul bersama kaum awam dalam memberitakan Kerjaan Allah.”[11]

2.    Sebagai Imam
Imam adalah anggota masyarakat beriman yang mengambil bagian dalam panggilan serta misi bersama para pengikut Kristus: “Bersama semua yang lahir kembali dalam jambangan baptis, imam adalah saudara di tengah saudara-saudara dan anggota tubuh Kristus yang semuanya diperintahkan untuk membangun” (Presbyterorum Ordinaris n. 9). Oleh karena itu, kaum awam jangan memandang imam sebagai orang yang memiliki kedudukan istimewa melainkan sebagai saudara yang mengemban tugas pelayanan suci. Sebagaimana yang dikutip dari kata St. Augustinus yakni “Aku sungguh-sungguh gentar oleh apa artiku bagi kalian, tetapi aku terhibur oleh apa artiku jika aku bersama kalian. Bagimu aku adalah uskup, bersama kalian aku adalah seorang Kristiani. Yang pertama adalah tugas, yang kedua adalah rahmat. Yang pertama adalah resiko, yang kedua adalah keselamatan” (Lumen Gentium n. 32).
“Dalam hubungan persaudaraan, imam dan kaum beriman tidak boleh mengaburkan tugas khusus imam sebagai pelayan Gereja.”[12] Sebab sejak awal para rasul telah dipilih untuk membimbing jemaat dalam Roh Yesus yang kemudian diemban oleh Trimatra.[13] Tugas dan tanggungjawab ini dilaksanakan dalam berbagai bentuk. Dalam memenuhi tugas dan tanggungjawab serta misinya, Gereja membutuhkan pribadi-pribadi yang di depan umum senantiasa bertanggungjawab untuk menunjukan ketergantungan hakikinya pada Yesus Kristus dan dengan demikian memberikan fokus kesatuannya dalam keanekaragaman anugrah. Pelayanan orang-orang seperti ini sejak awal mula telah ditahbiskan sebagai unsur pokok untuk kehidupan dan kesaksian Gereja.

IV.        PENUTUP
Kerinduan besar untuk mengenal Allah, bukan lagi lewat buku-buku atau konsep-konsep tetapi dalam diri sebagai permulaan hidup rohani. Manusia sesungguhnya terbakar oleh kerinduan untuk mencapai lansung, melihat, menyentuh dan merasakan Dia yang datang diantara kita. Dengan demikian, Allah sesungguhnya berada di depan mata kita sebagai yang hidup, menyapa dan bertindak sehingga keberadaan-Nya tidak perlu membutuhkan pembuktian atau pun pemberitahuan. Kita mengalami Allah dalam perjumpaan personal yang cukup pada dirinya dan Allah rela dikenal dan dimengerti serta tidak memerlukan jaminan dari luar perjumpaan tersebut.

REFERENSI
Dister, Nico Syukur. Pengantar Teologi. Yogyakarta: Kanisius, 2007.
Dokumen Konsili Vatikan II, Dekrit “Apostolicum Actuositatem” Tentang Kerasulan Awam, terj. R. Hardawiryana. Jakarta: Obor, 2004.
Hamma, Robert M. Seni Berproses Dalam Krisis. Jakarta: Obor, 2002.
Kirchberger, Georg. Allah: Pengalaman Dan Refleksi Dalam Tradisi Kristen. Maumere:   Arnoldus, 2000.
Konferensi Wali Gereja Indonesia. Iman Katolik. Yogyakarta: Kanisius, 2007.
Loyola, Ignasius. Latihan Rohani, terj. J. Darminta. Yogyakarta: Kanisius, 1993.
Marsunu, Seto. Dari Penciptaan Sampai Babel. Yogyakarta: Kanisius, 2008.
Neuner, J. Pergi Menyertai Dia. Jakarta: Obor, 2000.
Sudrijanta, J. Meditasi Sebagai Pembebasan Diri. Yogyakarta: Kanisius, 2011.




[1]Georg Kirchberger, Allah: Pengalaman Dan Refleksi Dalam Tradisi Kristen (Maumere: Arnoldus, 2000), hal.57
[2] Ignasius Loyola, Latihan Rohani, terj. J. Darminta SJ (Yogyakarta: Kanisius, 1993), hal. 9.
[3] Ibid., hal. 17.
[4]Konferensi Wali Gereja Indonesia, Iman Katolik (Yogyakarta: Kanisius, 2007), hal. 282.
[5] Nico Syukur Dister, Pengantar Teologi (Yogyakarta: Kanisius, 2007), hal. 45.
[6] Bdk. Seto Marsunu, Dari Penciptaan Sampai Babel (Yogyakarta: Kanisius, 2008), hal. 127.
[7]Ignasius, Op. cit., hal. 18.
[8]Robert M. Hamma, Seni Berproses Dalam Krisis (Jakarta: Obor, 2002), hal. 4.
[9] Bdk.  J. Sudrijanta, Meditasi Sebagai Pembebasan Diri (Yogyakarta: Kanisius, 2011), hal. 28.
[10] J. Neuner SJ, Pergi Menyertai Dia (Jakarta: Obor, 2000), hal. 29.
[11] Dokumen Konsili Vatikan II, Dekrit “Apostolicum Actuositatem” Tentang Kerasulan Awam, terj. R. Hardawiryana SJ (Jakarta: Obor, 2004), hal. 349.
[12] Neuner, Op. cit., hal. 36.
[13] Trimatra adalah struktur pelayanan dalam Gereja yang disebut sebagai uskup, imam dan diakon. Struktur pelayanan tersebut baru diterima di mana-mana oleh jemaat sejak abad II dan III.